Apr 9, 2012 - Article    No Comments

Belajar Bahasa Indonesia dan Teknik Penulisan Ilmiah (Tata Ejaan dan Pilihan Kata)

Dalam materi sebelumnya kita telah belajar tentang Konsep Dasar Bahasa Indonesia, nah sekarang kita belajar tentang Tata Ejaan dan Pilihan Kata).

Ada yang pernah tahu tentang Ejaan dan Mengeja kan? Tahukah kamu kalau Ejaan ≠ Mengeja? Bagi yang belum tahu, simak penjelasan berikut.

Ejaan adalah seperangkat aturan atau kaidah pelambangan bunyi bahasa, pemisahan, penggabungan, dan penulisannya dalam suatu bahasa. Sedangkan mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata. Sudah cukup jelas bukan?

Ejaan ternyata juga memiliki sejarah. Diantaranya adalah :

  • Ejaan Van Ophuijsen (1901 – 1947)
    Menggunakan huruf j dan oe, menggunakan tanda diakrilik (koma, ain, dan tanda trema)
  • Ejaan Republik (Ejaan Suwandi) (1947 – 1972)
    Mengganti huruf oe menjadi u, bunyi sentak di tulis k, kata ulang menggunakan angka 2, tidak dibedakan antara penulisan di sebagai awalan dan di sebagai kata depan.
  • Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) (16 Agustus 1972 – sekarang)
    Huruf dj menjadi j, j menjadi y, nj menjadi ny, sj menjadi sy, tj menjadi c, ch menjadi kh, kata ulang tidak boleh menggunakan angka 2, membedakan antara penulisan di sebagai awalan dan di sebagai kata depan.

Berbicara soal EYD, langsung aja kita simak beberapa Ruang Lingkup EYD :

  1. Pemakaian huruf
  2. Penulisan huruf
  3. Penulisan kata
  4. Penulisan unsur serapan
  5. Pemakaian tanda baca (pungtuasi)

Pemakaian Huruf

  • Abjad
    (A,B,C,D, … ,X,Y,Z — a,b,c, … ,x,y,z)
  • Vokal
    (a,i,u,e,o — A,I,U,E,O)
    Diftong (gabungan dua vokal). Contoh :  ai, au, oi. Diftong menciptakan bunyi yang berbeda dengan lafal aslinya.
  • Konsonan
    (b, c, d, … — B, C, D, …)
    Diagraf (gabungan dua konsonan). Contoh : kh, ng, ny, sy.
  • Pemenggalan
    Ada beberapa jenis pemenggalan. Diantaranya adalah :
    • Pemenggalan Kata Dasar
    • Pemenggalan Imbuhan
    • Pemenggalan Kata Gabungan
    • Pemenggalan Khusus
  • Nama Diri
    • Penulisan nama diri harus mengikuti EYD, kecuali ada pertimbangan khusus.
      Contoh:
      • Pemakaian biasa
      • Rumahnya di Jalan Pajajaran No. 5.
      • Ia berkantor di Jalan Budi Utomo.
      • Pemakaian dengan pertimbangan khusus
      • Ayahku dosen Universitas Padjadjaran Bandung.
      • Perkumpulan Boedi Oetomo didirikan pada tahun 1908
    • Untuk penulisan kata biasa bukan nama diri, untuk unsur kumia x ditulis seperti apa adanya, selain itu x diganti ks.
      Contoh:
  • Unsur kimia, ditulis apa adanya
    Contoh : xenon (unsur kimia), Sinar x (istilah ilmu pengetahuan)
  • Kata-kata biasa bukan nama diri
    Contoh : export ditulis ekspor
  • Penulisan nama orang berlaku ketentuan khusus, yaitu mengikuti kebiasaan orang yang punya nama meskipun menyalahi EYD
    Contoh : Judi — Yudi — Yudhi

Penulisan Huruf

Cara penulisan huruf ada dua, yaitu Penulisan Huruf Kapital dan Penulisan Huruf Miring. Berikut tata caranya :

Penulisan Huruf Kapital

  1. Dipakai untuk huruf pertama awal kalimat
  2. Dipakai untuk huruf pertama petikan langsung
  3. Dipakai untuk huruf pertama ungkapan yang berhubungan dengan Tuhan (Yang Mahakuasa, Quran, Weda, hamba-Mu,..)
  4. Dipakai untuk huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan yang diikuti nama (Raden, Haji, Nabi, dll.)
  5. Dipakai untuk huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang/pengganti nama orang/instansi/nama tempat (Presiden Yudoyono, Menteri Pertanian, Gubernur Bali)
  6. Dipakai untuk huruf pertama unsur nama orang (Budi Luhur)
  7. Dipakai untuk huruf pertama nama bangsa, suku bangsa dan bahasa (Melayu, Tionghoa)
  8. Dipakai untuk huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya dan peristiwa sejarah
  9. Dipakai untuk huruf pertama nama khas dalam geografi (Teluk Bayur, Gunung Semeru, Danau Toba, dll)
  10. Dipakai untuk huruf pertama semua unsur nama negara, badan/lembaga pemerintahan, ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi (Undang-Undang Dasar 1945, Departemen Agama RI, dll)
  11. Dipakai untuk huruf pertama unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan/lembaga (Perserikatan Bangsa- Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial)
  12. Dipakai untuk huruf pertama semua kata nama buku, majalah, surat kabar dan judul karangan.
  13. Dipakai untuk huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan (Bapak, Ibu, Paman, Kakak, dll.)
  14. Dipakai untuk huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, sapaan (Jend., Sdr., M.M., dll.)
  15. Dipakai untuk huruf pertama kata ganti anda

Penulisan Huruf Miring

  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, surat kabar yang dikutip dalam karangan.(majalah Prisma, tabloid Nova)
  2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan.(dia muka menipu tapi ditipu)
  3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk kata nama ilmiah atau ungkapan asing (nama ilmiah padi adalah oriza sativa)

Penulisan Kata
Ada beberapa penulisan kata, diantaranya adalah :

  1. Kata Dasar
  2. Kata Turunan
  3. Bentuk Ulang
  4. Gabungan Kata
  5. Kata Ganti ku, kau, mu, nya
  6. Kata Depan di, ke, dari
  7. Kata Sambung si, sang
  8. Partikel
  9. Singkatan dan Akronim
  10. Angka dan Lambang Bilangan

Penulisan Unsur Serapan
Penulisan ini diambil dari berbagai bahasa daerah dan bahasa asing. Berdasarkan integritasnya, unsur serapan dibagi menjadi 2 yaitu :

  • Belum sepenuhnya terserap kedalam bahasa Indonesia, pengucapannya masih mengikuti cara asing. Contoh : reshuffle, shuttle cock.
  • Pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah Bahasa Indonesia. Contoh : haemoglobin menjadi hemoglobin.

Pemakaian Tanda Baca

  1. Tanda titik (.)
  2. Tanda koma (,)
  3. Tanda titik koma (;)
  4. Tanda titik dua (:)
  5. Tanda hubung (-)
  6. Tanda pisah (–) panjangnya dua kali tanda hubung
  7. Tanda elipis (…)
  8. Tanda tanya (?)
  9. Tanda seru (!)
  10. Tanda kurung ((…))
  11. Tanda kurung siku ((…))
  12. Tanda petik (“…”)
  13. Tanda petik tunggal ((‘…’))
  14. Tanda garis miring (/)
  15. Tanda penyingkat atau apostrop (‘)

Sebenarnya selain hal diatas, ada satu hal lagi yang dipelajari yaitu Pilihan Kata atau Diksi. Diksi memiliki pengertian yaitu penggunaan kata dalam berbagai kesempatan harus memperhitungkan ketepatan dan kesesuaiannya. Penggunaannya harus tepat (makna, logika, dan maksud) dan harus sesuai (konteks sosial).

Mengapa diksi diperlukan? Pilihan kata yang tidak tepat dapat menyebabkan ketidakefektifan bahasa dan mengganggu kejelasan informasi yang disampaikan.

Kapan kata-kata ini digunakan? Berikut ada beberapa contoh :

  • Diam!
  • Tutup mulutmu!
  • Saya berharap anda tenang.
  • Jangan berisik!
  • Dapatkah anda tenang sebentar?
Diksi ini memiliki beberapa fungsi yaitu :
  • Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal.
  • Membentuk gaya ekspresi yang tepat sehingga dapat diterima dengan tepat oleh pembaca.
    • Komunikasi berjalan baik
    • Suasana tepat
    • Mencegah perbedaan tafsiran
Bagaimana materi kali ini? Pasti jadi lebih mengerti kan? Belajar terus ya. :)

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!