Nov 11, 2015 - Data Warehouse    No Comments

Data Warehouse Planning (Perencanaan Data Warehouse)

Sebelum memutuskan untuk membangun data warehouse untuk sebuah organisasi atau perusahaan, ada beberapa hal yang perlu diketahui sebagai dasar permasalahan karena perencanaan yang tidak matang akan menghasilkan kegagalan. Pertama, apakah perusahaan benar-benar membutuhkan data warehouse. Setelah itu, apakah sudah benar-benar siap? Selain itu perusahaan juga harus menentukan tipe data warehouse yang akan dibangun dan dimana tempat penyimpanannya. Perusahan harus merencanakan siapa yang akan menggunakan data warehouse, bagaimana menggunakannya, dan pada saat seperti apa menggunakan data warehouse.

Value and Expectations

Beberapa perusahaan ingin menggunakan data warehouse tanpa melihat berapa nilai yang akan mereka dapatkan dari data warehouse yang akan digunakan. Tentu saja, pertama kita harus yakin bahwa data warehouse adalah solusi yang terbaik. Setelah kita menemukan solusi yang terbaik, kita bisa mulai untuk menghitung keuntungan. Apakah data warehouse akan membantu pimpinan dan manajer untuk melakukan perencanaan dan pengambilan keputusan yang lebih baik? Apakah akan meningkatkan market share? Jika iya, seberapa banyak? Apa harapannya? Apa yang diinginkan oleh manajemen melalui data warehouse? Sebagai awal dari perencaan, buatlah daftar dari keuntungan dan harapan yang realistis.

Risk Assessment

Merencanakan resiko biasanya selalu dihubungkan dengan biaya proyek. Jika proyek gagal, berapa banyak kerugian yang akan ditanggung? Tapi penilaian resiko tidak hanya menghitung kerugian biaya. Resiko apa yang dihadapi oleh perusahaan tanpa keuntungan yang diingikan dari data warehouse? Kerugian apa yang sekiranya akan diderita? Kesempatan apa yang sekiranya akan hilang? Penilaian resiko sangat luas dan relevan untuk setiap bisnis. Gunakan kebudayaan dan kondisi bisnis perusahaan untuk menilai resiko. Masukkan juga penilaian ini dalam dokumen perencanaan.

Top-down or Bottom-up

Untuk membangun data warehouse, kita perlu tahu terlebih dahulu, apakah pendekatan yang digunakan adalah Top-down atau Bottom-up. Pendekatan Top-down adalah membangun data warehouse secara keseluruhan, yang kemudian disalurkan ke departemen dan data mart. Sebaliknya, pendekatan bottom-up dimulai dengan membangun data mart satu persatu, kemudian dikumpulkan menjadi satu data warehouse perusahaan. Kita harus benar-benar menimbang pilihan apa yang sekiranya cocok untuk perusahaan. Pendekatan top-down memiliki waktu implementasi yang lebih lama dan menunda realisasi kemungkinan keuntungan, namun data perusahaan akan menjadi terpadu. Sebaliknya pendekatan bottom-up akan membutuhkan waktu yag lebih singkat untuk beberapa alasan. Pendekatan ini biasanya digunakan untuk reaksi cepat terhadap kompetitior yang ganas. Bahkan mungkin perusahaan tidak akan ada waktu untuk membangun data warehouse secara keseluruhan. Namun, terlepas dari apapun pendekatan yang digunakan, simaklah pilihan dengan hati-hati dan buatlah pilihan. Dokumentasikan keterlibatan pilihan dalam dokumen perencanaan.

Build or Buy

Ini adalah masalah terbesar yang dihadapi seluruh perusahaan. Tidak pernah ada perusahaan yang membangun data warehouse benar-benar dari awal dengan pemrograman perusahaan. Tidak perlu untuk menciptakan roda setiap saat. Alat dan solusi yang sempurna dari pihak ketiga telah tersedia. Pertanyaannya adalah berapa banyak data mart yang harus kita bangun sendiri? Ada berapa banyak yang mungkin akan menjadi solusi nyata? Ramuan apa yang cocok untuk masalah tersebut? Dalam data warehouse, ada fungsi yang sangat luas. Apakah kita akan menerapkannya dengan kemampuan perusahaan? Di sisi lain ada pilihan untuk membeli dari pihak ketiga yang akan berujung pada implementasi yang lebih cepat dan efektif. Berhati-hatilah pada mart kita sendiri dengan mart yang kita beli. Tidak ada peluru perak diluar sana. Kita sendiri yang harus menentukan keseimbangan yang terbaik antara buatan sendiri atau milik pihak ketiga. Rencanakan ini sendiri.

Single Vendor or Best-of-Breed

Memilih solusi single vendor tentu akan memberikan kita beberapa keuntungan:

  • Alat-alat yang terintegrasi dengan baik
  • Tampilan dan rasa yang sama
  • Komponen yang ada bekerja dengan baik
  • Pertukaran informasi yang lebih terpusat
  • Total biaya bisa dinegoisasi.

Pendekatan ini akan secara alami menghasilkan data warehouse yang terintegrasi dengan baik dan fungsi yang jelas. Namun, hanya ada beberapa vendor saja seperti IBM dan NCR yang menawarkan solusi yang terintegrasi. Solusi yang lain adalah Best-of-Breed yang memiliki keuntungan sebagai berikut:

  • Bisa membangun lingkunan yang cocok dengan perusahaan
  • Tidak perlu kompromi antara database dan alat yang digunakan
  • Memilih produk yang paling sesuai dengan fungsinya

Dengan pendekatan best-of-bread, kecocokan antar alat dengan vendor yang berbeda akan menjadi masalah yang serius. Pastikan dulu bahwa alat yang dipakai terbukti cocok jika memang harus memakai pendekatan ini. Pilihlah secara matang dalam melakukan perencanaan.

Source : Data Warehousing Fundamentals: A Comprehensive Guide for IT Professionals. Paulraj Ponniah

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!